Prosedur medis diharapkan dapat membantu mengatasi masalah medis yang Anda miliki. Meski begitu, prosedur medis yang Anda jalani pun terkadang menimbulkan risiko kesehatan tertentu. Salah satu risikonya adalah graft versus host disease (GvHD).
Apa itu graft versus host disease?
Graft versus host disease (GvHD) adalah
komplikasi yang dapat terjadi setelah prosedur transplantasi organ atau
jaringan dari pendonor.
Salah satu yang sering terjadi GvHD,
yaitu setelah prosedur transplantasi
sumsum tulang menggunakan sel donor atau disebut transplantasi alogenik.
Transplantasi sumsum tulang itu sendiri
merupakan prosedur medis untuk mengganti sel punca (sel induk) atau sumsum tulang yang
rusak dengan yang baru.
Sumsum tulang baru bisa berasal dari donor (orang lain) maupun tubuh penderitanya
sendiri.
Prosedur medis ini merupakan bagian
dari pengobatan kanker
darah atau penyakit
kelainan darah tertentu.
Pada penderita GvHD, sel yang disumbangkan oleh pendonor memandang tubuh
penerima sebagai benda asing.
Akibatnya, sel yang disumbangkan justru menyerang tubuh penerima dan
merusaknya.
Adapun graft versus host disease
bisa merupakan kondisi medis ringan, tetapi juga bisa sedang atau berat.
Bahkan, dalam beberapa kasus, GvHD bisa mengancam nyawa.
Jenis dan gejala graft versus host disease
Secara umum, ada dua jenis GvHD yang bisa terjadi.
Masing-masing jenis memengaruhi organ dan jaringan
yang berbeda serta menimbulkan tanda dan gejala yang berbeda pula.
Adapun penderitanya bisa mengalami salah satu dari
jenis ini atau keduanya.
Lebih lanjut, berikut adalah jenis-jenis GvHD yang
dimaksud beserta dengan gejalanya yang mungkin timbul.
1.
GvHD akut
Graft versus host disease akut biasanya berkembang pada 100 hari pertama atau
lebih (paling lambat 6 bulan) setelah transplantasi.
Jenis
ini umumnya memengaruhi sistem kekebalan tubuh, kulit, hati,
dan saluran pencernaan atau usus.
Sementara itu, gejala GvHD akut yang muncul umumnya
seperti di bawah ini.
·
Kram atau sakit
perut, mual, muntah, diare, dan hilang nafsu makan.
·
Ruam, kemerahan,
dan gatal pada kulit.
·
Jaundice atau penyakit kuning (kulit atau mata menguning)
yang merupakan tanda GvHD telah memengaruhi hati.
2.
GvHD kronis
GvHD kronis biasanya dimulai lebih dari 3 bulan atau
hingga beberapa tahun setelah transplantasi.
Kondisi ini dapat berlangsung seumur hidup.
Jenis ini melibatkan satu atau beberapa organ tubuh
serta sering menjadi penyebab berbagai masalah kesehatan dan kematian setelah
transplantasi alogenik.
Adapun gejala yang timbul tergantung pada organ atau
jaringan tubuh yang terpengaruh.
Namun,
secara umum, berikut adalah gejala-gejala graft versus host disease yang bisa terjadi.
·
Mata kering dan
sensasi seperti terbakar atau perubahan penglihatan.
·
Mulut kering, ada bercak putih di dalam mulut, dan sensitif
terhadap rasa pedas.
·
Kelelahan, otot
melemah, atau nyeri kronis.
·
Sendi terasa
nyeri atau kaku.
·
Ruam dengan area
kulit yang terangkat, kulit berubah warna, atau kulit mengencang dan menebal.
·
Sesak napas, yang
merupakan tanda GvHD memengaruhi paru-paru.
·
Vagina kering atau nyeri saat berhubungan intim.
·
Penurunan berat
badan, sulit menelan, atau nyeri saat menelan.
·
Rambut rapuh dan
beruban lebih dini.
·
Perut membengkak
atau kulit dan/atau mata menguning.
·
Nyeri dada, yang
terjadi karena perikarditis atau pembengkakan
pada selaput yang mengelilingi jantung.
·
Sitopenia, yaitu
penurunan jumlah sel darah yang matang.
·
Kerusakan
kelenjar keringat.
Sementara
itu, Cleveland Clinic menyebut, pasien dengan graft versus host disease akut dan kronis lebih berisiko terhadap infeksi.
Oleh karena itu, perhatikan pula tanda-tanda infeksi yang mungkin
terjadi setelah Anda menjalani transplantasi, seperti demam hingga 38° Celsius atau lebih.
Apa penyebab graft versus host disease?
Penyebab graft versus host disease adalah sel donor yang mengidentifikasi jaringan tubuh penerima sebagai benda asing.
Hal ini kemudian menyebabkan sel donor
menyerang dan merusak jaringan tubuh Anda sehingga menimbulkan berbagai gejala
dan masalah kesehatan.
Adapun hal ini bisa terjadi pada pasien
setelah menjalani prosedur transplantasi, terutama transplantasi sumsum tulang.
Pada kasus yang jarang, graft versus host disease juga bisa terjadi setelah menjalani
prosedur transplantasi hati atau transplantasi ginjal.
Lalu, mengapa hal tersebut bisa terjadi?
Pada kasus transplantasi sumsum tulang, GvHD umumnya terjadi bila
Anda menerima sel punca/sumsum tulang dari donor dengan human leukocyte antigen (HLA) yang tidak cocok dengan Anda.
Perlu Anda ketahui, sebelum menjalani transplantasi sumsum tulang,
Anda dan pendonor perlu menjalani tes darah (yang disebut tissue type test) untuk memeriksa seberapa cocok HLA Anda dan pendonor.
Jika Anda dan pendonor memiliki HLA yang
sangat mirip, kemungkinan terjadi GvHD sangat rendah.
Sementara bila banyak perbedaan antara HLA
Anda dan pendonor, risiko kemungkinan GvHD akan menjadi besar.
Umumnya, risiko GvHD lebih besar bila Anda
menerima sel donor dari orang lain yang tidak memiliki hubungan darah atau
keluarga.
MedlinePlus menyebut, risiko GvHD tersebut
bisa mencapai sekitar 60-80%.
Meski begitu, pendonor dari ikatan
keluarga pun tetap berisiko pada GvHD bila HLA tidak memiliki kecocokan.
Risikonya mencapai 35-45% jika mendapat
sel donor dari orang lain yang masih satu keluarga dengan Anda.
Selain itu, risiko graft versus host disease ini pun umumnya meningkat pada pasien
dengan kondisi berikut.
·
Pasien
atau pendonor berusia lanjut.
·
Pasien
dan pendonor berbeda jenis kelamin, terutama bila pasien pria mendapat donor
dari wanita yang pernah hamil.
·
Mendapat
sel punca atau sumsum tulang yang mengandung jumlah sel T (jenis sel darah putih) yang tinggi.
·
Pernah
mengalami GvHD akut (risiko untuk GvHD kronis).
·
Pendonor
terinfeksi virus cytomegalovirus.
Bagaimana dokter mendiagnosis penyakit ini?
Untuk mendiagnosis graft
versus host disease, dokter akan menanyakan gejala serta melakukan
pemeriksaan fisik.
Setelah
itu, dokter mungkin melakukan beberapa tes pemeriksaan di bawah ini untuk
memastikannya.
·
Rontgen perut.
·
CT scan perut atau CT scan dada.
·
Tes fungsi hati.
·
PET scan.
·
MRI.
·
Endoskopi kapsul.
·
Biopsi atau pengambilan sampel jaringan.
Bagaimana cara mengobati graft versus host disease?
Pengobatan utama yang diberikan untuk mengatasi GvHD adalah obat imunosupresan atau penekan sistem imun.
Umumnya, ini berupa obat
kortikosteroid, seperti prednisone atau methylprednisolone.
Bila
obat di atas tidak cukup untuk mengatasi kondisi ini, dokter mungkin akan
meresepkan obat lainnya, seperti ibrutinib, ruxolitinib, atau belumosudil.
Selain
obat yang utama, Anda juga mungkin akan mendapat obat atau pengobatan tertentu
untuk mengatasi gejala.
Pengobatan
yang akan Anda dapatkan tergantung pada gejala yang Anda alami, seperti di
bawah ini.
·
Steroid topikal untuk mengatasi gejala pada kulit yang ringan.
·
Obat tetes mata imunosupresif untuk mengatasi gejala pada mata.
·
Obat-obatan untuk mengobati diare atau masalah pencernaan lain.
·
Terapi fisik untuk mengatasi masalah otot dan sendi.
·
Obat untuk mengatasi mulut kering.
·
Photopheresis atau extracorporeal
photochemotherapy (ECP), yaitu sejenis perawatan penyaringan
darah.
·
Diuretik untuk mengatasi penumpukan cairan pada tubuh.
Setiap
pasien bisa mendapat jenis pengobatan yang berbeda, konsultasikan dengan dokter
untuk jenis pengobatan yang tepat.
Bisakah mencegah graft versus host disease?
Melakukan tissue
type test sangat penting untuk dapat mencari tahu kecocokan HLA
Anda dan pendonor untuk mencegah terjadinya GvHD setelah transplantasi sumsum
tulang.
Adapun
tingkat kecocokan HLA lebih tinggi pada orang yang masih memiliki hubungan
keluarga.
Oleh
karena itu, mendapat donor transplantasi sumsum tulang dari orang yang memiliki
hubungan keluarga bisa membantu mengurangi risiko terjadinya GvHD.
Selain
itu, dokter mungkin akan memberi Anda obat imunosupresan tertentu setelah
transplantasi dilakukan.
Obat-obatan
ini dapat menurunkan kemampuan sel donor untuk memberi respons imun terhadap
jaringan tubuh Anda sendiri.
Konsultasikan
dengan dokter untuk mendapatkan obat-obatan tersebut.
Hello
Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.


Post A Comment:
0 comments: