Seseorang yang mengalami patah tulang atau fraktur perlu mendapat pengobatan medis untuk mengatasi kondisinya. Setelah mendapat pengobatan, masa pemulihan yang dijalani bisa berlangsung lama untuk dapat sembuh seperti semula. Namun, tahukah Anda bagaimana proses penyembuhan patah tulang atau fraktur tersebut? Apa saja obat dan pengobatan, termasuk pertolongan pertama, yang biasa diberikan sebagai cara untuk menangani patah tulang?
Proses penyembuhan
patah tulang atau fraktur
Struktur tulang pada sistem gerak manusia berfungsi untuk menopang dan
membuat badan tetap tegap sehingga mampu melakukan berbagai aktivitas. Ketika
tulang patah, tentu hal ini akan mengganggu aktivitas Anda. Selain tidak bisa
menggerakkan anggota tubuh, Anda pun mungkin akan merasakan gejala patah tulang
lain yang membuat Anda tidak nyaman.
Pada dasarnya, tulang dapat
sembuh dengan sendirinya ketika mengalami fraktur. Saat tulang patah, tubuh
akan bereaksi dengan berbagai cara untuk mengatasi hal ini, termasuk menyambung
kembali patahan dan sembuh seperti sedia kala. Meski demikian, tulang yang
patah harus berada di posisi yang tepat dan terlindungi agar terjadi proses
penyembuhan yang baik.
Pada kondisi ini, pengobatan patah tulang dari dokter
umumnya diperlukan untuk membantu proses penyembuhan tersebut. Oleh karena itu, sebelum mengetahui
jenis-jenis penanganan patah tulang dari dokter, ada baiknya Anda mengetahui
tahapan atau proses yang terjadi di tubuh mulai dari tulang patah hingga
memasuki masa penyembuhan. Berikut adalah prosesnya:
1. Perdarahan dan
peradangan
Saat tulang patah atau retak, perdarahan
akan langsung terjadi yang menyebabkan peradangan dan pembekuan darah di lokasi
patah tulang. Darah yang membeku tersebut berfungsi untuk menjaga bagian-bagian
tulang yang patah agar tidak ke mana-mana dan melindungi dari masuknya zat asing,
termasuk kuman, ke dalam tulang yang patah tersebut.
Tahap ini terjadi hanya
beberapa jam setelah tulang patah atau retak dan bisa berlangsung selama
beberapa hari.
Namun, kondisi ini juga menyebabkan reaksi peradangan di area tubuh yang
mengalami fraktur, seperti pembengkakan.
2. Pembentukan jaringan lunak
Darah yang membeku ini
kemudian akan diganti dengan jaringan fibrosa dan tulang rawan yang disebut
dengan soft callus atau
kalus lunak. Kalus lunak ini merupakan jaringan yang sebagian besar terbuat
dari kolagen dan dibuat oleh kelompok sel khusus yang disebut kondroblas.
Ini merupakan tahap awal dalam
produksi tulang untuk menyambung kembali tulang yang patah. Pada tahap inilah
pengobatan patah tulang, seperti pemasangan gips, akan diberikan.
Adapun tahap ini bisa berlangsung selama 4 hari hingga 3 minggu, tergantung
kondisi masing-masing pasien.
3. Tulang menjadi padat
kembali
Setelah kalus lunak terbentuk,
akan muncul sel yang disebut dengan osteoblas yang berperan dalam membentuk
tulang. Sel ini akan menambahkan mineral ke dalam jaringan tulang yang baru dan
mengisi rongga-rongga yang masih kosong. Pada tahap ini, tulang akan semakin
padat dan kuat.
Setelah osteoblas memadatkan
jaringan tulang yang baru, kalus lunak akan diganti dengan tulang keras (atau
disebut hard callus/kalus
keras). Tahap ini biasanya dimulai 2 minggu setelah patah terjadi dan bisa
berakhir pada minggu ke-6 atau ke-12.
4. Pembentukan kembali
tulang
Setelah terbentuk dan menjadi
semakin padat, tulang baru biasanya berbentuk lebih besar karena adanya
jaringan yang berlebih dari sel osteoblas. Oleh karena itu, tubuh akan menghasilkan
sel osteoklas, yang berfungsi untuk memecah jaringan tulang yang berlebih
tersebut dan membentuk tulang kembali ke bentuk aslinya.
Proses renovasi tulang ini bisa
berlangsung sangat lama, hingga bertahun-tahun. Aktivitas sehari-hari, seperti
berjalan atau berdiri, membantu mendorong pembentukan kembali tulang tersebut. Selain itu, Anda pun perlu tetap
menjaga kesehatan tulang dengan mengonsumsi makanan yang baik untuk penderita
patah tulang. Konsultasikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.
Proses penyembuhan
patah tulang pada anak

Proses
penyembuhan patah tulang seperti yang telah dijelaskan di atas terjadi pada
setiap pasien fraktur, baik orang dewasa maupun anak. Namun, berbeda dengan
orang dewasa, patah tulang pada anak lebih cepat sembuh.
Proses
pembentukan tulang baru pada anak umumnya hanya mencapai beberapa minggu
setelah cedera terjadi, sedangkan orang dewasa bisa berlangsung dalam beberapa
bulan.Hal ini bisa terjadi karena anak-anak masih berada dalam masa
pertumbuhan. Pada periode ini, tulang anak masih diselubungi lapisan tebal
jaringan ikat yang disebut periosteum.
Jaringan
ini mengelilingi tulang dan menyediakan suplai darah ke tulang. Jika tulang
mengalami fraktur, tubuh menggunakan suplai darah ini untuk menggantikan sel
yang rusak dan menyembuhkan tulang.
Saat
anak bertumbuh dewasa, periosteum cenderung menipis. Inilah sebabnya patah
tulang pada orang dewasa membutuhkan waktu pemulihan lebih lama. Sebaliknya,
semakin muda usia anak pada saat mengalami patah tulang, maka lebih cepat ia
sembuh.
Obat dan pengobatan
yang membantu proses penyembuhan patah tulang
Pengobatan
dari dokter umumnya dilakukan untuk membantu dan mempercepat proses
penyembuhan, mengontrol rasa sakit, mencegah komplikasi, serta memulihkan
fungsi gerak tubuh yang terpengaruh menjadi sedia kala. Adapun jenis pengobatan
yang diberikan bisa berbeda pada setiap orang.
Hal ini tergantung pada jenis fraktur yang dimiliki, lokasi tulang yang patah,
tingkat keparahan, usia, riwayat medis, kondisi pasien secara keseluruhan,
serta toleransi tubuh pasien terhadap prosedur pengobatan tertentu. Namun,
secara umum, berikut berbagai cara, obat, dan pengobatan untuk mengobati patah
tulang atau fraktur yang biasa diberikan dokter:
·
Gips
Penderita Pemasangan gips
merupakan cara mengobati patah tulang tanpa operasi yang paling umum diberikan
dokter. Gips berfungsi untuk menjaga ujung tulang yang patah tetap pada posisi
yang tepat dan mengurangi pergerakan, guna membantu mempercepat proses penyembuhan.
Gips untuk patah tulang bisa
terbuat dari plester atau fiberglass. Adapun
jenis gips yang akan digunakan tergantung dari tipe fraktur dan lokasi tulang
yang mengalami patah atau retak. Namun, gips umumnya tidak dilakukan untuk
penanganan fraktur atau patah tulang di tulang kecil, seperti jari tangan dan
kaki.
·
Belat atau bidai
Sama
seperti gips, belat atau bidai juga merupakan prosedur penyembuhan atau
pengobatan patah tulang tanpa operasi yang biasa dilakukan. Belat digunakan
untuk mencegah pergerakan pada area tulang yang mengalami fraktur selama masa
penyembuhan. Namun, jenis pengobatan ini umumnya diberikan bila ada area
pembengkakan di sekitar tulang yang patah.
Pasalnya,
gips yang terlalu kencang bisa mengurangi sirkulasi darah di area yang cedera
tersebut. Gips baru akan dipasang setelah area yang membengkak membaik. Selain
itu, belat atau bidai juga seringkali digunakan untuk patah tulang kecil yang
tidak membutuhkan gips.
·
Traksi
Traksi
adalah alat yang terdiri dari katrol, senar, pemberat, dan rangka logam yang
dipasang di atas tempat tidur. Alat ini digunakan untuk meregangkan otot dan
tendon di sekitar tulang yang patah, agar tulang dapat sejajar dan proses
penyembuhan dapat berlangsung dengan cepat.
Cara
pengobatan ini jarang digunakan untuk menyembuhkan patah tulang. Namun, traksi
juga sering digunakan untuk menstabilkan dan menyetel kembali tulang yang patah
sebelum operasi dilakukan.
·
Operasi patah tulang

Fraktur yang parah atau sulit
diperbaiki dengan gips atau belat umumnya akan ditangani dengan cara operasi
atau pembedahan. Operasi patah tulang dilakukan untuk mengembalikan tulang
yang patah ke posisi semula.
Untuk menahan potongan tulang
tersebut dengan aman, terkadang pen atau perangkat yang terbuat dari logam
dipasang di area tulang tersebut, baik di dalam tulang maupun luar tubuh Anda.
Jenis pengobatan ini paling sering dilakukan untuk tipe patah
tulang pinggul. Pasalnya, jenis perawatan lain mengharuskan pasien untuk
tidak bergerak dalam waktu lama, dan hal ini seringkali memberikan hasil yang
buruk.
·
Obat-obatan
Selain
penanganan utama di atas, pasien patah tulang atau fraktur pun umumnya mendapat
obat-obatan untuk membantu mengatasi gejala yang dirasakan. Obat-obatan yang
diberikan bisa berbeda pada masing-masing pasien tergantung pada tingkat
keparahan gejala yang dialami. Berikut beberapa obat-obatan tersebut:
Obat analgesik
Obat pereda nyeri (analgesik)
umumnya diberikan untuk membantu meredakan rasa nyeri pada penderita fraktur.
Rasa nyeri yang ringan akibat patah atau retak tulang biasanya cukup
mengonsumsi obat analgesik yang bisa dibeli di apotik, seperti parasetamol.
Namun, sebagian besar kasus
patah tulang menimbulkan rasa nyeri atau sakit yang hebat. Pada kondisi ini,
dokter akan meresepkan obat analgesik yang lebih kuat, seperti morfin atau Tramadol. Kedua jenis
obat ini juga seringkali diberikan untuk meredakan rasa nyeri setelah melakukan
operasi patah tulang, terutama untuk fraktur di pinggul atau patah
tulang belakang.
Obat NSAID
Obat
antiinflamasi nonsteroid (NSAID) pun umumnya diberikan sebagai cara untuk
membantu menyembuhkan tulang yang patah atau retak. Jenis obat ini berfungsi
untuk meredakan rasa nyeri serta mengurangi peradangan saat patah tulang baru
terjadi.
Beberapa jenis obat NSAID yang
sering digunakan untuk penanganan fraktur, yaitu ibuprofen, naproxen, atau obat lain yang lebih kuat. Ibuprofen dan
naproxen merupakan jenis obat NSAID untuk patah tulang yang bisa dibeli di
apotik. Meski demikian, penggunaan obat ini sebaiknya tetap sesuai saran dokter
agar terhindar dari efek samping yang mungkin timbul.
Antibiotik
Obat antibiotik profilaksis,
seperti cefazolin, seringkali diberikan kepada pasien patah tulang
terbuka. Pasalnya, dilansir dari laman University of Nebraska Medical Center (UNMC), pasien patah tulang terbuka berisiko terkena
infeksi, yang juga meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi serius,
seperti nonunion dan osteomielitis.
Adapun
penggunaan obat antibiotik tersebut dapat mencegah terjadinya infeksi pada
penderita patah tulang terbuka.
·
Fisioterapi
Setelah
menjalani berbagai cara untuk mengobati patah tulang dan telah dinyatakan
sembuh, Anda mungkin perlu melakukan fisioterapi untuk membantu melemaskan otot
dan mobilitas bagian tubuh yang mengalami fraktur. Fisioterapi untuk patah
tulang tentu membantu Anda untuk kembali menjalani aktivitas normal seperti
sebelum fraktur terjadi.
Bila Anda mengalami patah tulang kaki, fisioterapi dapat menjadi cara untuk
membantu Anda belajar jalan setelah pulih. Selain itu, fisioterapi juga
membantu mengurangi risiko kekakuan permanen pada bagian tubuh yang mengalami
fraktur, terutama bila tulang yang patah berada di dekat atau melalui
persendian.
Selain berbagai pengobatan medis, beberapa
orang lebih memilih menggunakan pengobatan tradisional untuk patah tulang,
seperti urut atau obat herbal. Menggunakan jenis pengobatan ini tidaklah
dilarang, tetapi bukan berarti sudah pasti aman dan tidak menimbulkan risiko.
Oleh karena itu, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter sebelum
menggunakannya untuk mencegah komplikasi patah tulang.
Pertolongan pertama
pada patah tulang atau fraktur

Penyebab patah tulang bisa
beragam. Bila patah tulang terjadi akibat cedera yang parah hingga menimbulkan
perdarahan hebat, tulang atau sendi berubah bentuk, tulang menembus kulit,
menimbulkan mati rasa, atau menduga adanya patah tulang di leher, kepala, atau
punggung, kondisi ini membutuhkan penanganan darurat untuk mengatasi kondisi
yang dialami.
Segera hubungi rumah sakit terdekat atau
nomor darurat jika Anda menemukan kasus fraktur seperti ini. Sementara menunggu
pertolongan medis, Anda dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk
mengurangi risiko atau kemungkinan fraktur semakin parah.
Berikut beberapa langkah pertolongan
pertama pada penderita patah tulang yang bisa Anda praktikkan:
·
Jangan menggerakan atau memindahkan pasien kecuali jika perlu
untuk menghindari cedera lebih lanjut.
·
Jika ada perdarahan, hentikan perdarahan tersebut. Tekan luka
dengan perban steril, kain bersih, atau pakaian bersih secara perlahan.
·
Jangan mencoba meluruskan kembali tulang atau mendorong tulang
yang menonjol. Jika Anda terlatih dalam menggunakan bidai atau belat, Anda bisa
memasang bidai atau belat di area atas dan bawah tulang terjadinya fraktur.
·
Saat memindahkan pasien, pastikan bidai atau belat terus tetap
terpasang untuk mengurangi pergerakan di area yang cedera.
·
Kompres dengan es untuk mengurangi pembengkakan dan membantu
meredakan nyeri. Namun, jangan menempelkan langsung es ke kulit, gunakan handuk
atau kain untuk membungkus es tersebut dan dikompreskan ke area patah tulang.
·
Jaga agar pasien tetap pada posisinya setenang mungkin, terutama
bila terjadi tanda-tanda syok, seperti napas pendek atau pingsan. Tutupi dengan
selimut agar tetap hangat dan bila mungkin baringkan pasien tersebut dengan
posisi kaki terangkat sekitar 30 cm dari badannya. Namun, jangan pindahkan atau
ubah posisi orang tersebut bila mengalami cedera di kepala, leher, atau
punggung.
·
Jangan memberikan pasien makanan atau minuman melalui mulut. Hal
ini dapat menunda pemberian anestesi umum saat operasi darurat diperlukan.


Post A Comment:
0 comments: