Sindrom Rett adalah kelainan genetik langka yang memengaruhi perkembangan otak. Umumnya, kondisi yang lebih sering dialami oleh anak perempuan ini akan terlihat gejalanya pada usia 1 sampai 1,5 tahun.
Sindrom Rett terjadi pada 1 dari 15.000 kelahiran. Bayi dengan sindrom
Rett awalnya berkembang dengan normal, tapi kemudian perkembangannya terhambat
secara bertahap. Tidak semua penderita sindrom Rett mengalami gejala yang sama,
sebagian penderita mungkin memiliki gejala yang lebih berat dari yang lainnnya.
Selain itu, sindrom ini muncul di usia yang berbeda pada satu penderita
dengan penderita lainnya.
Gejala Sindrom Rett
Gejala sindrom Rett bervariasi, baik dari usia penderita ketika pertama
kali gejala muncul, maupun tingkat keparahan gejala.
Sebagian besar bayi dengan sindrom Rett tumbuh normal sampai usia 6
bulan. Setelah itu, gejala mulai muncul. Meski demikian, perubahan yang
signifikan cenderung baru muncul pada usia 1 hingga 1,5 tahun.
Perjalanan penyakit sindrom Rett dibagi menjadi 4 tahap, yaitu:
Tahap 1 (stagnation)
Tahap 1 ditandai dengan gejala kesulitan saat makan, muncul gerakan
tungkai yang tidak normal dan berulang, terlambat bicara, kesulitan
bergerak (misalnya ketika ingin duduk, merangkak, atau berjalan), serta kurang
tertarik bermain. Gejala tahap 1 terlihat saat anak berusia 6-18 bulan.
Tahap 2 (regression)
Pada tahap ini, kemampuan anak dapat menurun secara drastis atau
perlahan-lahan. Gejalanya meliputi gerakan tangan yang tidak
bertujuan dan tidak terkontrol (seperti meremas atau menepuk), rewel dan
berteriak tanpa alasan jelas, menghindari kontak mata dengan orang lain, tubuh
tidak seimbang saat berjalan, gangguan tidur, lingkar kepala lebih kecil dari
rata-rata, serta sulit mengunyah dan menelan. Tahap 2 muncul pada rentang usia
1-4 tahun.
Tahap 3 (plateau)
Tahap ini ditandai dengan membaiknya gejala yang dialami di tahap 2.
Sebagai contoh, anak menjadi tidak rewel dan lebih memerhatikan orang lain.
Cara berjalan dan berkomunikasi anak juga mulai membaik.
Meski demikian, ada beberapa gejala baru yang muncul pada tahap ini,
seperti kejang, pola napas yang tidak teratur (misalnya bernapas pendek,
lalu menarik napas panjang, atau menahan napas), serta kebiasaan menggeretakkan
gigi. Beberapa anak bahkan mengalami gangguan irama jantung. Tahap ini
dimulai pada usia 2-10 tahun.
Tahap 4 (deterioration in movement)
Tahap 4 ditandai dengan kelainan bentuk tulang belakang atau skoliosis,
lemah dan kaku otot, serta tidak mampu berjalan. Di sisi lain, kemampuan anak
dalam berkomunikasi dan memahami orang lain dapat membaik, bahkan
gerakan tangan yang berulang dan kejang juga mulai berkurang. Gejala tahap 4
berlangsung hingga dewasa.
Kapan harus ke dokter
Gejala sindrom Rett bisa sulit untuk dideteksi pada awal kondisi ini
terjadi. Segera berkonsultasi dengan dokter bila Anda merasa ada yang
berbeda dengan anak Anda, seperti:
- Rewel
- Terlambat bicara
- Tidak suka bermain
- Respons minimal ketika
berinteraksi dengan orang
- Gerakan tangan yang
berulang-ulang
- Kepala terlihat kecil
Penyebab Sindrom Rett
Sindrom Rett disebabkan oleh mutasi atau perubahan pada gen yang
mengatur perkembangan otak, yaitu MECP2. Belum diketahui apa yang menyebabkan
perubahan gen tersebut.
Sindrom Rett bukanlah penyakit yang diturunkan dari orang tua. Meski
begitu, anak dari keluarga yang memiliki riwayat sindrom Rett diduga lebih
berisiko menderita kondisi yang sama.
Sindrom Rett lebih sering terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak
laki-laki. Akan tetapi, bila sindrom Rett dialami oleh anak laki-laki, gangguan
yang terjadi bisa lebih parah, bahkan biasanya anak sudah meninggal sejak dalam
kandungan.
Diagnosis Sindrom Rett
Dokter dapat mendeteksi sindrom Rett bila terdapat gangguan tumbuh
kembang pada anak dengan ciri-ciri atau gejala yang mengarah ke penyakit ini.
Guna memastikannya, dokter akan menjalankan tes genetik dengan mengambil sampel
darah untuk diteliti di laboratorium.
Pengobatan Sindrom Rett
Pengobatan sindrom Rett bertujuan untuk mengatasi gejala dan membantu
penderita menjalani aktivitas sehari-hari. Pengobatan tersebut meliputi:
- Terapi bicara dan
bahasa, untuk meningkatkan kemampuan komunikasi penderita.
- Obat-obatan, guna
meringankan gejala kaku otot, gangguan pernapasan, serta kejang.
- Asupan nutrisi yang cukup,
untuk membantu perkembangan fisik penderita.
- Fisioterapi, untuk membantu
penderita bergerak dengan lebih baik. Pada penderita sindrom Rett dengan
kelainan bentuk tulang belakang, dokter akan memberikan alat bantu.
- Terapi okupasi, untuk
membantu penderita melakukan sendiri pekerjaan sehari-hari, seperti
memakai baju atau makan.
Meskipun tidak ada pengobatan khusus yang dapat mengatasi sindrom Rett,
beberapa penderita dapat mengontrol gerak tubuhnya dan berkomunikasi lebih baik
setelah menjalani pengobatan di atas. Namun, kebanyakan penderita sindrom Rett
tetap membutuhkan bantuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari selama
hidupnya.
Pengobatan tambahan seperti deep brain stimulation atau
terapi gen diduga dapat bermanfaat pada penanganan sindrom Rett. Namun, masih
dibutuhkan penelitian lebih lanjut sebelum menerapkan terapi ini.
Komplikasi Sindrom Rett
Kebanyakan penderita Sindrom Rett tetap dapat mencapai usia dewasa.
Komplikasi yang dapat timbul akibat Sindrom Rett antara lain:
- Gangguan tidur
- Gangguan makan
- Masalah tulang dan sendi
- Gangguan perilaku dan
kecemasan
- Gangguan pencernaan, seperti
sembelit dan sakit maag
Selain komplikasi di atas, beberapa penderita sindrom Rett bisa
mengalami paru-paru basah atau gangguan irama jantung yang berakibat
fatal.
Pencegahan Sindrom Rett
Sindrom Rett tidak dapat dicegah,
karena kebanyakan kelainan genetik yang menyebabkan sindrom ini terjadi secara
spontan. Meski begitu, jika Anda memiliki anggota keluarga dengan sindrom
Rett atau kelainan genetik lainnya, sebaiknya lakukan skrining genetik pada
kehamilan Anda untuk mengantisipasi adanya kelainan pada janin.
Post A Comment:
0 comments: